Pewaris Kekeramatan Syaikh Abdul Qodir Jailani

Comments · 45 Views

Berbicara tentang Gus Miek menghadirkan banyak versi, karena orang banyak merasa dekat dengan Gus Miek dari berbagai macam persepsi mereka. Santri-santri Gus Miek seperti kompak dalam satu kode untuk menutup mulut tentang sejarah Gus Miek.

Prilaku tutup mulut ini berdasarkan banyak faktor, di antaranya munculnya orang yang memang pro dan kontra pada gaya dakwah Gus Miek
Pengikut Gus Miek seperti sepakat berkata, “Aku tidak tahu".
Perbedaannya dipicu berberapa faktor, di antaranya: pertama, karena semua orang merasa dirinya paling dekat dengan Gus Miek.
Kedua, tidak semua orang mampu menafsirkan prilaku Gus Miek terutama sifat kontroversialnya dalam berdakwah.
Ketiga, karena tidak secara pasti setiap hari nara sumber selalu bersama Gus Miek, sebab sejak umur tujuh tahun Gus Miek telah mengembara dan jarang pulang ke rumah.
Pulangnya pun tidak ke rumah ayahnya, Kiai Djazuli, tapi tidur di kamar komplek G pesantren Ploso.
Gus Miek lahir di Kediri sekitar tahun 1940, lima tahun sebelum bung karno mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia.
Nyleneh dan unik sejak kecil adalah ciri Gus Miek. Umur tujuh tahun telah memiliki ikatan spiritual dengan Kiyai Ramli, seorang wali mursyid thariqah sekaligus pendiri pesantren Darul ‘Ulum Jombang.
Umur sembilan tahun menjalin spiritualitas dengan wali besar Kiyai Hamid Pasuruan. Sedangkan untuk lokal Kediri, ikatan spiritualnya berhubungan dengan K.H. Abdul Majid Ma’roef pendiri jama‘ah
Shalawat Wahidiyah dan K.H. Mubasir Mundzir.
Gus Miek pada pendidikan formalnya tidak begitu apresiatif. Memang setiap hari dia berangkat sekolah, tapi sampai tujuan lebih asyik bermain. Di kelas cenderung menggambar di buku tulis daripada harus menulis dan susah-susah memerhatikan pelajaran. Maka tidak lebih ia hanya sampai kelas tiga SR.
Ia keluar dan melanjutkan hobinya menggembara dan sowan pada kiyai-kiyai. Sifat mengembara menjadikan Gus Miek seperti putra yang hilang. Kyai Djazuli, sebagai ayah, memiliki respon bersifat manusiawi; ia merasa gelisah jika melihat kepribadian anak tidak sesuai harapannya.
demi menghadapi ke-nyleneh-an putranya,
Gus Miek. Pasti setiap bertemu dengan kiyai
manapun, sang ayah memohon doa untuk
kenylenehan Gus Miek.
Kebetulan saat itu K.H. Mahrus Ali Lirboyo berkunjung di Ploso. mendengar keluhan Kyai Djazuli, Kiyai Mahrus Ali berinisiatif mengajak Gus
Miek kecil dalam usia tiga belas tahun ikut
pulang ke Lirboyo sekaligus mondok.
Gus Miek tanpa berkemas ikut ke Lirboyo. Sedikit terobati kegundahan Kyai Djazuli dan istrinya, Nyai Rodliah, terhadap prilaku baik Gus Miek ini.
Akan tetapi ternyata Lirboyo lagi-lagi bukan jaminan menyadarkan Gus Miek. Dua minggu di Lirboyo ia sudah pamitpulang ke Ploso.Dibuat kaget melihat Gus Miek sudah pulang dari Lirboyo, di malam hari Kiyai Djazuli mengobrol ringan dg Nyai Rodliah
sambil menyinggung sikap Gus Miek,
Geg Amik kui mbesok dadi opo? di pondokne
telulas dino wes muleh.”
trus amik itu mau jadi apa di pondokkan 13 hari sudah pulang?
Gus Miek di ruangan sebelah mendengar dan merespon percakapan orang tuanya,
“Bapak, mbenjeng sedinten
panjenengan istirahat mawon, kersane kulo
mbenjeng sedinten ingkang gantosi ngaji.”
Esok hari ucapannya ditepati, dari pengajian habis subuh sampai malam, dari kitab fiqh dasar, Taqrib. sampai kita besar fiqh semi teology Ihya ulumiddin Gus Miek ajarkan.
Semenjak kejadian-kejadian semacam ini membuat Kyai Djazuli sadar sikap nyleneh Gus Miek bukan karena nakal.
Sekalipun tidak betah di Lirboyo, Gus Miek diinformasikan pernah nyantri pada Kiyai Dalhar pengasuh pesantren Darussalam Magelang Watucongol. Di sini Gus Miek relatif cukup lama berdiam jika dibanding di Lirboyo.
Lama secara kuantitas sekali lagi bukan sebuah jaminan ada perubahan kualitas. Ngajinya sebatas ngobrol dengan santri lain tanpa ikut pengajian secara formal.
Di Watucongol metode belajar Gus Miek
tidak membuka kitab, tetapi lebih pada bentuk
pengabdian pada Kiyai Dalhar, layaknya adab
seorang santri pada seorang kiyai; jika Kiyai
Dalhar ke masjid Gus Miek membalikkan
sandalnya, dan jika Kiyai Dalhar berangkat
mengaji, Gus Miek setia membawa kitabnya,
dan begitu seterusnya hingga kurang lebih
tiga bulan.
Proses dialektik secara individual pada ulama telah membentuk karakter Gus Miek, karena spiritual Gus Miek direkonstruksi tidak signifikan nyantri di pesantren, melainkan karena intens bersilaturrahmi
dengan alim-ulama.
Pergaulan yang direkonstruksi Gus Miek sebagai instrumen untuk mengasah spiritualnya adalah dari
obrolan ringan bermanfaat, lewat silaturrahmi
tersebut, yang obrolan itu dikemas dengan
dalil-dalil agama.
Dan hal ini menyinergikan lain, terdapat juga pergaulan itu dilakukan sebaliknya, di mana Gus Miek bukan saja mengunjungi, tetapi juga dikunjungi. Sebagai contoh kunjungan Kyai sepuh sufi yg juga terkenal wali KH Hamid Kajoran datang jauh jauh dari Magelang datang ke Ploso Kediri untuk bersilaturrahmi kepada Gus Miek.
Setiba di ploso, beliau di sambut Kyai Djazuli,
"gus miek mana?"
Dijawab oleh Ayah Gus Miek,
"Lho kenapa bukan Amiek (Gus Miek) saja suruh ke sana?”
K.H. Hamid Kajoran menjawab, “Tidak, yang pantas itu aku yang datang ke sini, bukan gus miek ke magelang.
Penjelasan-penjelasan serta petualangan spiritual Gus Miek ini juga terjadi dalam keadaan mabuk mistis, yang banyak diterjemahkan pada keluarga Ploso oleh sahabat-sahabatnya. Ketika Gus Miek masih usia belia dan sedang masa masanya belajar, Kyai Djazuli di buat pusing oleh ‘kenakalan’ Gus Miek.
Tetapi orientasi irrasional Gus Miek saat itu mampu diredam oleh KH Mubasyir Mundzir dengan nasehat,
"Sampun Kiyai, kersane mawon, putro panjenengan setunggal niku mboten usah didukani, pun kersane kemawon. Amergi putro panjenengan ingkang setunggal niku mewarisi kramate Syehk abdul qodir jailani".
Gus Dur lebih jauh mengapresiasi keteladanan Gus Miek terhadap non-Muslim dan pemeluk
agama selain Islam. Gus Miek, bagi Gus Dur, melalui transendensi keimanannya tidak lagi melihat ‘kekeliruan’ dari keyakinan orang beragama atau berkepercayaan lain.
Banyak penganut Katolik, hindu dll menjadi pendengar setia wejangan Gus Miek seusai acara semaan al Qur'an Jantiko Mantab.
Apresiasi lain Gus Dur terhadap Gus Miek adalah metode dakwahnya yang unik, dan ini nampak jelas dari dua corak kehidupan kontradiktif dari Gus
Miek.
Pertama kehidupan tradisional orang pesantren yang tertuang dalam rutinitas jama‘ah Dzikrul Ghofilin dan semaan al Qur'an.
Kedua, glamornya kehidupan hiburan modern yang sering dianggap sebagai dunia orang-orang negatif. Glamor, karena Gus Miek memiliki kegemaran berdakwah di diskotik, night club, tempat2 dugem
(dunia gemerlap), juga di arena persinggahan dan perkampungan orang-orang tuna susila.
Tampak benar, dua kehidupan ini tidak akan pernah ditemui dari alim-ulama manapun.
Gus Miek akrab dan sangat mengenal seluruh penghuni dari tempat-tempat tersebut.
Sebaliknya, semua orang yang mengenal Gus Miek pun kemudian merasa diri paling dekat dengan Gus Miek.
Selain itu, dalam dakwahnya, Gus
Miek juga meminum minuman-minuman keras.
Tetapi minuman paling disukai, yang setiap malam ditenggak, adalah bir hitam, dengan ditemani rokoknya Wismilak bungkus hitam, dengan
ramuannya yang diakui berat.
Apakah kehidupan semacam itu kontradiktif? Ternyata tidak, karena di kedua tempat itu ia berperanan sama. Memberikan kesejukan kepada
jiwa yang gersang, memberikan harapan kepada mereka yang putus asa, menghibur mereka yang bersedih, menyantuni mereka yang tidak punya,
dan mengajak semua kepada kebaikan.
Apakah itu petuah di pengajian seusai sema'an sewaktu menyediakan waktu konsultasi pribadi untuk pejabat dan kaum elit, ataupun ketika meladeni bisikan kepedihan yang disampaikan
dengan suara lirih ke telinganya oleh wanita-wanita penghibur, semua itu esensinya tetap sama. Manusia memunyai potensi memerbaiki keadaannya sendiri.